Kuadran Habit & Habitat: Antara Ayin dan JK

14 Jan 2010

Ini soal inkonsistensi yang kelihatan dengan terang benderang di layar kaca. Wakil Rakyat yang menyumpah serapah, tahanan yang menghuni istana di penjara, hingga sosok negarawan walau tanpa jabatan politik.

Lembaga hukum di Indonesia rupanya tak hanya gagap ketika akan menahan seorang yang nyata bersalah; akan tetapi juga bermasalah dan gugup ketika mengelola orang yang sudah berstatus tahanan. Nyata terjadi ketika ada istana di penjara pada kasus Ayin Si Ratu Lobby…

Keruwetan ini bisa jadi ada konflik antara habit (kebiasaan) dengan habibat (lingkungan)…

Saya coba buat kuadran, tentang habit dan habitat..

HABIT LAMA DI HABITAT LAMA

Ini terjadi di lembaga hukum kita, makanya masih menjadi rimba belantara. Makanya markus tetap eksis, malah beranak pinak dan berkembang biak, baik vertikal maupun horizontal. Ini terjadi juga di pemerintahan, ketika ada beberapa kesalahan administratif, mulai dari pengangkatan calon wakil menteri yang tidak jadi (menkes dan menkeu); karena ternyata tak lolos syarat administrasi; begitu pula ada pasal yang hilang di DPR pada periode lalu.

Habit lama (yang jelek) di habitat lama (yang jelek) itu perlahan tapi pasti akan punah. Masalahnya bisa jadi dianggap harta karun, hingga beberapa pihak merasa perlu melestarikan, demi kepentingannya sendiri.

HABITBARU DI HABITAT LAMA
Ini yang terjadi pada wakil yang seharusnya mewakil rakyat, tapi malah mewakili partai dan ‘bapak’-nya. Ada yang mengaku-ngaku bahwa kementrian anu adalah kementrian partainya, padahal jabatan publik ditandai dengan transisi antara loyalitas kepada partai menuju loyalitas kepada rakyat dan negara. Dengan kata lain, loyalitas kepada partai berhenti ketika loyalitas kepada negara dimulai.

Habit lama yang jelek, tentu bisa bermasalah jika di habitat baru, tetap dipertahankan. Karena akan mewarnai habitat baru itu untuk menyesuaikan dengan habit lama dari yang punya kuasa.

HABITLAMA DI HABITATBARU
Ini yang terjadi pada lembaga yang secara sistem mengalami reformasi. Dibutuhkan kekuatan kepemimpinan yang menyebabkan, kebiasaan baru bisa menjadi solusi agar habitat lama (yang jelek), perlahan bisa menjadi lingkungan sempurna bagi tumbuh berkembangkan habit baru.

Habit baru ini muncul biasanya karena insyaf, mendapat pencerahan, dan mungkin bisa jadi karena semakin dekatnya tingkat spiritualitas. Contoh nyata, habit baru (yang baik), yang bisa ditularkan salah satu Dirut BUMN yang memang telah mengalami near death experience (pengalaman hampir meninggal). Atau JK yang masihbersosok negarawan walaupun tak ada jabatan politik yangmelekat padanya.

HABIT BARU DI HABITAT BARU
Dalam konteks kebaikan, maka habit baru menjadi solusi bagi tumbuhnya habitat baru. Habitat baru juga menjadi indikator tumbuhnya habit baru. Keduanya saling berpengaruh. Inilah yang namanya reformasi total. Perlu ada perbaikan kebiasaan sekaligus perbaikan lingkungan.

Dimakanah gerangan kita menemukan ini di negara yang punya masa lalu yang masih membebani dan masa depan yang bagi beberapa masyakarat tak terang benderang?

Di lembaga yang terhormat, habitat lama dan masih banyak habit yang lama. Di pemerintahan, masih juga terjadi seperti itu.

Sepertinya ini perjuangan yang harus dilakukan bukan untuk satu atau dua tahun ke depan. Ini tentang menyiapkan generasi masa depan yang tak disibukkan oleh kesalahan masa lalu bangsanya sendiri…


TAGS


-

Author

Follow Me