Anak Yatim dan Keadilan Sosial bagi Sebagian Rakyat Indonesia

7 Feb 2012

Pak Asep, Ketua RT di lokasi Pondok Yatim Menulis, bertemu dengan saya di depan rumah salah satu anak yatim. Rumahnya hampir rubuh. Atapnya rusak, langit-langitnya bobrok, dinding sampingnya sudah bolong-bolong sekepalan tangan. Tak ada kamar mandi. Selama ini, keluarga Bu Omah beserta 4 anaknya, BAB di selokan.

13285958571253412725Saya bertanya kepada Pak RT, apa yang bisa dilakukan? Apakah sudah dilaporkan kepada Pak Kepala Desa?

Pak RT mengatakan bahwa warga sudah mengajukan renovasi rumah itu kepada pihak Desa, 3 tahun yang lalu. Sudah 3 tahun

Masyaallah

Inikah pemimpin yang selama ini menjalankan roda birokrasi dan digaji oleh uang rakyat. Inikah pemimpin yang bertambah kekayaannya berlipat-lipat setelah menerima jabatan, sementara rakyatnya masih banyak yang melarat. Inikah pemimpin di negara yang berdiri tegar dengan Pancasila sebagai salah satu pilarnya?

Menyalahkan Pak Kades sama saja dengan mengutuk gelap. Lebih baik kita menyalakan lilin untuk penerang.

Segera saja, saya sharing melalui twitter, BBM, facebook dan semua media yang memungkinkan tersentuhnya hati dari orang-orang yang masih mencintai negeri ini, dan yakin bahwa Keadilan Sosial masih ada untuk seluruh rakyat Indonesia. Bahwa Keadilan Sosial bukan untuk Sebagian Rakyat Indonesia.

Bukankah Keadilan Sosial itu menjadi landasan bahwa orang miskin akan dipelihara oleh negara? bukankah keadilan sosial itu berarti bahwa ketika seorang ayah miskin yang wafat, meyakini bahwa anak yatim yang ditinggalkannya bisa hidup, mendapat pendidikan yang layak di rumah besar bernama Indonesia? Bukankah keadilan sosial itu berarti bahwa, anak yatim itu bukan hanya disantuni 5 tahun sekali? akan tetapi diberdayakan supaya mereka bisa bangkit mandiri?

Terenyuh melihat kondisi Desa kami, terenyuh melihat kondisi bangsa ini.

Terlebih, ketika kami mengadakan kegiatan Dokter Keluarga Yatim, ternyata 70% keluarga yatim tidak mendapatkan kartu jaminan kesehatan gratis; dan lebih parah lagi, ternyata untuk membuat kartu tersebut dikenakan biaya.

Duh Gusti

Jangan murkai dulu negeri ini. Beri kami kekuatan untuk memperbaiki negeri ini.

Beri peringatan kepada para pemimpin kami di segala tingkat, dari negara hingga desa, agar mereka berbalik hatinya untuk membela rakyat jelata. Karena sesungguhnya jabatan mereka adalah amanah yang harus dipertanggung jawabkan.

Kini, kami bergerak untuk melakukan renovasi rumah tinggal anak yatim. Ini adalah yang pertama. Semoga saja bisa terus berkembang, tak hanya di desa kami, tapi juga bisa di desa lainnya di seluruh Indonesia.


TAGS yatim


-

Author

Follow Me