Efek Depan Kenaikan Harga BBM

2 Apr 2012

BBM tak jadi naik 1 April ini. Tak jadi, bukan berarti tidak, hanya soal waktu saja. Hiruk pikuk parlemen berujung pada kompromi kalkulatif politis.

BBM memang berdampak dan berefek samping, akan tetapi tak cuma efek samping, efek depannya juga ada. Buktinya, harga bahan pokok sudah naik, harga bensin eceran naik, pertamax naik, dan membuat para pemilik mobil mewah beralih ke premium; tanpa malu, tanpa punya rasa keberpihakan.

Orang miskin di negeri ini memang seringkali jadi komoditas politik ketimbang jadi target kesejahteraan. Hanya di Indonesia saja, orang miskin dijadikan alat untuk mensubsidi orang kaya melalui subsidi BBM. Buktinya, tak banyak orang miskin yang berkendaraan roda dua, tiga apalagi empat. Buktinya, orang miskin yang paling banyak terkena efek depan BBM.

RUU APBN-P kata Prof Yusril Ihza Mahendra melanggar Pasal 33 UUD 1945, kebijakan pemerintah dalam menangani sumber daya negeri ini pun bisa jadi mencederai Pasal 34 UUD 1945, karena seharusnya, orang miskin dipelihara oleh negara.

Kini, negeri ini seolah hanya dimilii segelintir politisi, yang berdebat disorot televisi, berjas rapi, tanpa panas-panasan. Sementara para mahasiswa bercucuran darah dan keringat menggugat keberpihakan pemerintah terhadap rakyat.

Pemilik negeri ini bukan hanya para politisi, tapi pemegang saham terbesarnya adalah rakyat Indonesia.

Politisi memang berbeda dengan negarawan. Politisi hanya memikirkan pemilihan yang akan datang, negarawan memikirkan generasi yang akan datang.

Saatnya menyelamatkan rakyat miskin dari ketidakberpihakan pemerintah.


TAGS


-

Author

Follow Me