• 27

    May

    Golden Ticket to USA - Napak Tilas Jejak Obama

    Minggu pagi, sebenarnya saya ada janji bermain bola dengan anak yatim Pondok Yatim Menulis di Ciapus. Akan tetapi, berita via email 2 hari lalu dari US Embassy - Jakarta, tentang pemberian Golden Ticket to USA, sudah ada di tangan saya; sudah diprint dan saya jaga dengan hati-hati. Undangan ini bermula dari milist di komunitas blogger Bogor yang menginformasikan ada kompetisi Golden Ticket to USA di Grup Facebook US Embassy - Jakarta. Berangkatlah saya ke RCTI; sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan, jam 08.00 - 09.00. Memacu motor dan melanjutkan perjalanan menggunakan bis serta busway; jam 06.00 berangkat, saya pun tiba jam 08.30 di RCTI. Sudah ramai di ruangan audisi/seleksi. Semua dengan atribut yang berbau Amerika. Ada yang bergaya koboy, Indian, Elvis Presley, sampai yang palin
  • 14

    Apr

    Kuadran Keberuntungan

    Setiap pulang kerja, naik kereta, saya selalu mengincar posisi duduk. Untuk mendapatkan posisi itu tentu ada beberapa persiapan yang saya lakukan; misal, mengincar tempat duduk yang diduduki orang yang tampangnya ‘ngga nyampe Bogor’ alias orang-orang Citayam; berikutnya berdiri di dekat orang itu dan dengan sigap mengambil tempat orang tersebut ketika berdiri dari tempat duduknya. Saya beruntung mendapat tempat duduk. Saya pikir, rutinitas pencarian tempat duduk itu, mirip-mirip dengan kehidupan juga. Ada yang sepanjang jalan di kereta duduk terus, walaupun di setiap stasiun, banyak yang turun; tentu karena posisinya tak dekat dengan orang yang turun duluan itu, ataupun kalau dekat, meleng dikit, dan kursinya direbut orang yang relatif jauh tapi lebih sigap. Saya pikir lagi,
  • 12

    Apr

    Hutang Dibawa Mati

    Ada sebuah rumah di dekat rumah saya, yang di depannya dipasang plang DIJUAL. Teman saya, yang pebisnis, melihat rumah itu dan mendatangi pemiliknya. Saat itu lumayan malam, jam 22.00. Yang menerimanya Pak Yandi, suaminya. Setahu saya, dulu di depan rumah itu ada mobil Baleno dan 3 angkot. Sekarang semuanya tidak ada. Ibu Yanto, akhirnya cerita, kenapa mereka berniat menjual rumah itu. Rupanya, beberapa tahun yang lalu, dia menghutangi seseorang sebesar 178 juta rupiah. Tidak langsung, tapi perlahan, mencicil. Awalnya, dia berkenalan, sebut saja dengan Bu I; karena perkenalan yang demikian baik, akhirnya terjalin persahabatan. Akan tetapi, persahabatan itu dimanfaatkan oleh Ibu I untuk berhutang kepada Ibu Yandi. Pertama-tama, hanya 1 juta rupiah, lama-lama Bu I mengatasnamakan orang-oran
  • 30

    Mar

    Celana yang Bolong Tengahnya

    “Kenapa mukanya kok manyun gitu?” tanya saya ke teman kerja “Biasa.. tadi nonton Brazil vs Ekuador…makanya telat masuk kantor…” jawab teman saya “Lho.. apa hubungannya sama manyun?” saya bingung “Iya.. pas mau berangkat, begitu pake celana, eh bagian ‘itu’-nya bolong..” kata teman saya, masih manyun “Terus…?” “Lha.. saya komplain dong sama isteri, masa udah seminggu, itu jahitan ngga kelar juga…” kata teman saya lagi “Terus…?” “Iya.. akhirnya, ya gitu deh.. berantem dikit, gara-gara celana bolong, telat pula….” “Hehehehhehe.. tinggal ganti aja ama celana lain, gitu aja kok repot!” jawab saya… “Iya.. tapi khan, dia harusnya b
  • 26

    Mar

    Pembantu dan Obat Tidur

    “Abi… kenal tetangga depan itu nggak?” tanya isteri saya, suatu malam, disela santai melihat acara Termehek-mehek. “Kenal banget sih nggak.. kenapa?” saya balik nanya.. “Tadi, Bunda waktu belanja, di warung itu pada cerita tentang pembantunya…” kata isteri saya “Kenapa? khan pembantunya baik-baik aja kayanya…sering keliatan nyapu di depan..” kata saya “Iya.. khan bayi mereka umur setahun-an.. nah, waktu kemarin ditinggal pergi belanja bulanan, dan dititip ke pembantunya, pulang-pulang, ibunya mau bangunin anak bayinya itu, susah banget…” kata isteri saya lagi.. “Emang kenapa? mungkin pules…” “Ngga.. Abi.. ternyata, anak bayinya itu dikasih obat tidur sama pembantunya…” ja
- Next

Author

Follow Me