Yang Cacat Sebenarnya Siapa?
Pagi ini, seperti biasa saya naik kereta di gerbong ujung. Hujan yang rintik-rintik, mungkin berdampak pada penumpang yang agak lengang. Saya berdiri di dekat pintu keluar, dan meletakkan tas yang isinya laptop, handphone, buku dan bekal makanan yang disiapkan isteri tadi pagi.
Di depan saya, ada seorang pria yang tangan kirinya buntung, hanya sampai siku. Tangan kanannya memegang buku kecil yang dengan asyik dibaca. Mulutnya mengunyah permen. Di sebelah saya lagi, ada seorang pemuda juga, bertopi, yang sejak masuk di kereta, sibuk sms dengan menggunakan hanphone yang lumayan bagus.
Kereta berjalan. Saya memperhatikan pria bertangan sesiku itu yang matanya asyik membaca buku di tangan kanannya, mulutnya mengunyah permen. Ketika kereta akan sampai di Cilebut, pria bertopi yang sibuk SMS itu nanya ke saya,
“Ini Cilebut ya? udah ini Bojong Gede ya…”
“Iya mas….” saya menjawab.


