Yang Cacat Sebenarnya Siapa?

Posted on Februari 25th, 2009 in Kisah Juga by lebahcerdas  Tagged

Pagi ini, seperti biasa saya naik kereta di gerbong ujung. Hujan yang rintik-rintik, mungkin berdampak pada penumpang yang agak lengang. Saya berdiri di dekat pintu keluar, dan meletakkan tas yang isinya laptop, handphone, buku dan bekal makanan yang disiapkan isteri tadi pagi.

Di depan saya, ada seorang pria yang tangan kirinya buntung, hanya sampai siku. Tangan kanannya memegang buku kecil yang dengan asyik dibaca. Mulutnya mengunyah permen. Di sebelah saya lagi, ada seorang pemuda juga, bertopi, yang sejak masuk di kereta, sibuk sms dengan menggunakan hanphone yang lumayan bagus.

Kereta berjalan. Saya memperhatikan pria bertangan sesiku itu yang matanya asyik membaca buku di tangan kanannya, mulutnya mengunyah permen. Ketika kereta akan sampai di Cilebut, pria bertopi yang sibuk SMS itu nanya ke saya,

“Ini Cilebut ya? udah ini Bojong Gede ya…”

“Iya mas….” saya menjawab.

Jenderal Nagabonar for President

Posted on Februari 25th, 2009 in Politik Dikit by lebahcerdas  Tagged , , ,

Pagi ini saya baca koran,kabarnya Deddy “Nagabonar” Mizwarakan maju sebagai Capres. Dia melakukan orasi politik. “Jenderal Nagabonar”, di TIM, Jum’at 27 Februari.

Deddy Mizwar identik dengan Nagabonar yang hatinya sangat cinta Indonesia. Keluguannya adalah potret zaman. Deddy Mizwar maju jadi capres karena miris melihat masih ada 40 juta rakyat miskin di negeri yang katanya kaya.

Fenomena Blok S (SBY), Blok M (Megawati), Blok J (Jusuf Kalla), Blok T (Tengah), bertambah dengan banyaknya orang yang peduli pada rakyat untuk maju jadi Capres. Bagus sih.

Mereka lupa, bahwa untuk menciptakan kesejahteraan, tidak melulu harus dengan menjadi presiden. Ini berarti menilai menjadi presiden adalah sebuah solusi sekaligus sebuah masalah.

Saya ingat dengan ucapan Nelson Mandela ketika mengundurkan diri sebagai Presiden Afrika Selatan, dia mengatakan bahwa menjadi presiden yang baik sama nilainya dengan menjadi warga negara yang baik.

Kita lihat saja, para Capres itu, bukan ketika mereka menjadi presiden sesuai dengan keinginannya; tapi, justru ketika mereka tidak menjadi presiden. Apakah mereka melakukan sesuatu yang real untuk rakyatnya, atau malah sibuk dengan kepentingannya sendiri atau golongannya. Kalau sibuk dengan kepentingan diri dan golongananya, yakinlah mereka bukan berniat untuk mensejahterakan rakyat, tapi mengincar kekuasaan dengan ‘alasan’ untuk mensejahterakan rakyat.