Zubaidah Kengkong dan Penyakit Ayan
Tetanggaku ada yang punya anak gadis yang usianya hampir 23 tahun. Tangan kanannya tak seperti tangan yang normal. Telapaknya tak bisa mengembang, menguncup (bahasa sundanya kengkong). Lengannya pun tak bisa menjulur alisa selalu membentuk siku-siku dengan pangkal lengannya. Kaki kanannya lebih pendek dari kaki kiri, dan telapak kakinya melengkung ke dalam. Ketika berjalan, terseok-seok dengan tangan kanan yang mengayun. Mungkin otak sebelah kirinya yang kena penyakit, maka tubuh bagian kanannya tak normal begitu.
Zubaidah nama gadis itu. Ayahnya membuka bengkel sepeda. Ibunya membantu menjemurkan biji pala untuk kemudian dijual ke tempat lain. Tangan dan kaki Zubaidah yang tak normal, membuatnya dikenal dengan nama Zubaidah Kengkong. Setiap berjalan, selalu mendapat perhatian dari anak-anak. Sekedar melihat, ada juga yang menyoraki. Mungkin anak-anak itu berpikir pendek, kalau orang cacat mirip-mirip dengan orang gila, apalagi cara berjalannya yang aneh. Menanggapi begitu, biasanya Zubaidah hanya tersenyum, melewati anak-anak dan sesekali melotot, kalau ada anak yang mengejeknya keterlaluan.
Zubaidah menjadi bahan olok-olok anak-anak kampung. Suatu hari, pernah di bagian punggungnya diselipkan daun singkong; dan salah seorang anak kebetulan membawa kambing. Melihat daun singkong yang diselipkan di punggung Zubaidah, maka kambing itu pun mengejar Zubaidah. Zubaidah ketakutan. Dengan larinya yang aneh, Zubaidah dikejar kambing yang ingin melahap daun singkong di belakang punggung Zubaidah. Anak-anak kecil itu tertawa. Tertawa di atas penderitaan Zubaidah.
Zubaidah rajin mengaji. Berkerudung setiap sore menuju musholla untuk mengaji pada ustadz Sanusi. Lantunan ayat Qur’annya merdu. di beberapa bagian, seperti sedang menangis. Entah apa yang ditangisi.
Zubaidah mulai dewasa, dan perasaannya sebagai wanita pun mulai ingin diperhatikan dan memperhatikan laki-laki. Suatu saat, pernah ada yang serius menjalin hubungan. Zubaidah senang bukan kepalang. Tapi hubungan tak dilangsungkan, karena orang tua pria melarang dengan keras.
Zubadiah sering murung. Kadang di malam hari berjalan menyusuri pinggiran sawah atau gang di sebelah mesjid. Keanehan tubuhnya membuat dia dianggap aneh secara kejiwaan. Zubaidah makin sering jalan sendiri, menyusur pematang sawah.
Suatu pagi, penduduk dikagetkan oleh berita tentang Zubaidah yang terjatuh di pinggir sawah. Airnya tak dalam, hanya setumit. Zubaidah kambuh ayan-nya, terjatuh di genangan air dan meninggal disana.
Orang tuanya membawa Zubaidah ke rumah. Dimandikan, dikafani dan dishalatkan. Tak banyak yang datang. Tapi, dari sedikit yang datang itu pun penasaran, ingin melihat Zubaidah terakhir kali. Zubaidah yang kala hidupnya sepi, ketika meninggal pun sepi.



on April 7th, 2009 at 15:05
hmm..
mungkin seperti itulah jalan yang terbaik yang diberikan tuhan..???
maybe, itulah jalannya…
on April 24th, 2009 at 18:16
kita wajib mendidik anak2 kita untuk menghargai perbedaan dan kekurangan orang lain
on April 29th, 2009 at 08:37
Kadangkala lingk seringkali bersikap “tidak adil” pd mrk yg memiliki keterbatasan fisik, namun saya melihat, jika lingk terdekat si anak capable (terutama ortu) mendukung dan mencintai sang anak dg sepenuh jiwa dan ikhlas menerima apa yg mjd kekurangan anak dan menyadari pasti anak pun memiliki kelebihan, ternyata hal tsb berpengaruh positif pd anak, walo mrk “kurang” secara fisik tp mrk bs tetap tumbuh mjd org2 yg hebat.
on Juni 12th, 2012 at 09:58
lg nyimak nih kang…