Jacko dan Gading yang Retak

Posted on Juni 30th, 2009 in Kisah Juga by lebahcerdas  Tagged

Pada 25 Juni 2009, jam 14.26 (waktu LA), Jacko berpulang. Masih kontroversi hingga kini. Seperti layaknya seorang superstar, megabintang, hidup hingga meninggalnya pun akan meninggalkan kisah. Puluhan tahun eksis, dan dijuluki sebagai ‘berkah’ bagi dunia musik. James Brown, yang sekaligus menjadi inspirasi gerakan Jacko pun, terkesima dengan performa Jacko ketika masih kanak-kanak.

Jacko dibesarkan oleh ayahnya yang disebutnya sebagai penjahat, berada di industri yang memang sedang menanti ‘berkah’ seperti dirinya hadir untuk menjadi primadona. Video klip Jacko adalah video klip penyanyi kulit hitam pertama yang diputar di MTV.

The Jackson Five tak cukup besar menampung bakatnya. Akhirnya Jacko berkarir solo, dan dahsyat…karena 19 Grammy Award, 13 Guiness World Record hingga 750 juta kasetnya terjual di seluruh dunia. Fenomenal.

Cinta itu Kata Kerja

Posted on Juni 30th, 2009 in Kisah Juga by lebahcerdas  Tagged
An interview with Dewi Hughes (long long time ago)
Kata orang, cinta itu berasal dari mata turun ke hati. Ternyata ini tidak tepat, karena cinta itu dari mata tidak langsung turun ke hati, melainkan mampir ke otak dulu untuk diolah. Di otak ada yang namanya hormon feromon yang memberikan keputusan untuk merespon apa yang dilihat mata. Makanya, seekor burung akan memberikan kesan yang berbeda kepada setiap orang. Bagi orang yang sangat menyukai burung, tentu dia akan menghabiskan waktu yang lama untuk bercengkrama, tapi bagi penderita ichtyrophobia (kelainan karena takut dengan burung) pasti akan membuatnya lari.

Jadi tidak benar apabila, cinta itu dari mata turun ke hati; cinta itu dari mata, mampir ke otak, baru turun ke hati, kalau memang keputusan otak seperti itu.

Hampir Nabrak Kucing dan Tentang Tono dan Tini

Posted on Juni 27th, 2009 in Kisah Juga by lebahcerdas  Tagged

Pagi banget berangkat ke terminal Damri. Gara-gara masih ngantuk, hampir aja nabrak kucing yang nyebrang tanpa melihat. Alhamdulillah, baik saya maupun kucing saling menyelematkan diri. Jadi ingat kata orang, kalau nabrak kucing, bisa-bisa sial. Bener ngga ya?

Percaya ngga percaya, peristiwa pagi ini mengantarkan saya ke memori puluhan tahun lalu, ketika masih SD. Waktu itu, tiba-tiba saja, datang 2 ekor kucing berwarna belang-belang kuning, khas kucing kampung, nyelonong ke rumah. Entah kucing siapa, tapi sejak saat itulah, kedua kucing itu jadi milik keluarga kami.

Nah, karena dari dulu saya memang suka ngasih nama terhadap apa pun. Pohon cengkeh hadiah sunatan waktu saya berumur 2 tahun saja saya kasih nama; Gondrong namanya. Kedua kucing ini juga saya kasih nama; Tono dan Tini. Ngga tau ide nama itu muncul darimana.

Email Pertama ke Amerika dan Bertemu Penulis Idola

Posted on Juni 27th, 2009 in Ikutan Lomba by lebahcerdas  Tagged

bobbideporter1

Karena ini S1 saya yang kedua, setelah S1 saya yang pertama tak tuntas, otomatis, saya membiayai sendiri kuliah. Memilih kelas sore, tak hanya supaya bisa cari kerja, tapi sekalian sekelas dengan teman-teman yang se-umuran, atau malah lebih tua. Kalau milih kelas pagi, teman sekelasnya berondong semua; yang kuliah emang niat kuliah; kebanyakan masih dapat beasiswa dari orang tuanya.

Rupanya, memilih kelas sore di Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi, yang disebut kelas pekerja, adalah pilihan tepat, walaupun saat itu saya belum dapat kerjaan. Tahun 1996 masuk kuliah, tahun 1997 nyambi jadi Ketua Himpunan, dan tahun 1999 nyambi jadi Ketua Senat. Lumayan, bisa sekalian bisnis fotocopian soal-soal ujian dan sekalian response, ngebahas soal. Selain itu, pernah juga kerja jadi waitress di restoran fast food; lumayan, kantong tipis, muka tambah tebel. Gajinya kecil, Rp 5.600 per hari, ngga cukup buat ongkos.

Debat Capres; Wong Cilik vs Wong Licik

Posted on Juni 26th, 2009 in Tak Berkategori by lebahcerdas  Tagged ,

Rasanya tak tahan untuk tak menulis tentang berita yang akhir-akhir ini makin mendominasi dunia kriminal. Tentang yang punya kuasa dengan yang dikuasai. Tentang konspirasi antara pihak yang punya uang, yang punya kuasa plus yang jadi korban, tentu saja yang tak punya uang dan tak punya kuasa.

Adalah seorang nenek yangsatu rumah tahanan dengan Prita Mulyasari; buta huruf yang dituduh melakukan penipuan dengan menjual rumahnya yang rencananya akan ditukar dengan 2 rumah yang dia tak tahu lokasinya dimana. Nenek buta huruf itu dikunjungi oleh kakek-kakek dan nenek-nenek juga. Tak paham dengan peliknya masalah. Hanya bisa menangis. Bergantian, televisi menayangkan nenek yang nangis dikunjungi kerabat dan cucunya; dengan megahnya sebuah perumahan. Kontras! Wong Cilik yang rasa-rasanya di-licik-i.

Halaman Berikutnya »