Ganti Handphone: Antara Keinginan dan Kebutuhan
Ini cerita dari teman saya; seorang penulis, juga pengusaha.
“Ganti tuh handphone lu…jadul!” kata temannya
Teman saya ini, sebut saja Mas R; handphonenya memang jadul, keluaran 5 tahun yang lalu, dan belum pernah diganti. Padahal, dia mampu beli handphone terbaru, berapa pun harganya. Yang jelas, dia sepertinya menganggap handphone hanya untuk berkomunikasi dalam bentuk sms atau telpon.
Tapi, bertubi-tubi teman-teman di sekelilingnya ‘menggoda’ untuk mengganti hanphone, yang berkamera, bisa akses internet, bisa facebook-an, pokoknya yang update.
Akhirnya, Mas R pun tergerak untuk mengganti handphonenya. Dilihatnya handphone itu sekali lagi dan dia pun pergi menuju mall di Jakarta Selatan. Niatnya, akan mengganti handphone dengan merk yang sama, tapi dengan teknologi terbaru.
Sampai di mall, dia berpapasan dengan seorang pengusaha, yang juga pemilik stasiun TV lokal di Jakarta. Saat berpapasan itulah, pengusaha di depannya itu menerima telpon; dan ternyata telpon yang dimiliki pengusaha yang juga salah satu konglomerat di Indonesia itu, menggunakan handphone yang sama persis yang dimilikinya, yang sesaat lagi ingin digantinya dengan handphone baru.
Tak jadi-lah Mas R. mengganti handphone-nya. Urung dia menuju toko untuk membeli handphone terbaru yang disarankan teman-temannya.
Memang, teknologi dengan pemasaran yang agresif membuat orang tak sadar membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Segala macam fitur yang canggih saat ini ditawarkan dan tentu saja harus dibeli dengan harga yang tinggi; padahal setelah dipakai, ternyata teknologi itu tak semuanya tercapai.
Memang, menggenggam handphone terbaru dengan teknologi tercanggih, membantu pekerjaan untuk orang tertentu, utamanya penjual handphone, tapi kadang-kadang, handphone itu juga bagian dari status atau gaya yang ingin dikomunikasikan kepada orang lain.
Saya? hmmm, ganti handphone kalau kecopetan atau hilang. Dan saya yakin, para copet pun update dengan handphone terbaru, dan milih-milih ketika berniat mencopet handphone tertentu, buktinya, salah satu teman saya yang ketinggalan handphone di suatu kantor, esoknya malah dianterin ke kantor. Setelah saya lihat handphone-nya, ya memang ngerepotin kalau mengambil handphone itu, kalau make sendiri dibilang ngga update, kalau dijual, udah ngga ada yang mau beli…
So… memang 80% orang Indonesia saat ini mengganti handphone tidak lagi dengan handphone second, tapi pasti dengan handphone baru, dan tentu saja, mengidentifikasi diri melalui sesuatu yang kita miliki, bisa baik bisa juga tak baik; baiknya karena kita bagian dari perkembangan alias update; jeleknya adalah ketika kita tak punya apa-apa secara materi, maka kita pun tak menjadi apa-apa dan tak menjadi siapa-siapa. Padahal di masa lalu, banyak orang yang tak punya materi pun bisa menjadi seseorang yang menginspirasi dunia.



on Juli 27th, 2009 at 19:11
biasanya dibikin kuadran mas..?
butuh+ingin, butuh+gak ingin. gak butuh + ingin, gak butuh + gak ingin…
on Juli 30th, 2009 at 14:03
Handphone, pilihan antara function dan fashion. Mostly pilih fashion …
on Juli 30th, 2009 at 15:58
betul kang baban, kl mau ngikutin keinginan beli hp tiap bulan