Jadi Dewasa, Siapa Takut?
Suatu hari saya naik kereta ekonomi menuju kampus Universitas Indonesia di Depok. Saya dapat tempat di ruangan yang sebenarnya buat masinis, tapi bisa ditempatin karena bagian itu dijadikan sambungan gerbong. Di ruangan itu itu rada lapang, jadi kita masih bisa ngobrol. Ada ibu-ibu, anak muda juga ada. Berhenti di salah satu stasiun, berloncatanlah anak-anak kecil usia SD dan SMP ke atas gerbong kereta api. Salah satu penumpang di ruangan kita, yang kebetulan latah, bilang..eh, anak kucing, anak kucing pada loncat.
Awalnya saya ngga perhatiin anak-anak itu, biasa lah anak kecil pengennya keliatan jago; jago loncat. Saya juga ngga perhatiin latahnya si Ibu tadi. Setelah lama dipikirin, kok ada benernya juga ya kalau anak kecil tadi dibilang anak kucing. Kucing khan katanya punya 9 nyawa ya? Sama kali sama anak-anak yang loncat dan duduk di atas gerbong, ngerasa kaya anak kucing, yang punya banyak nyawa.


