Anak Jalanan dan Negeri Jalanan
Semalam, saya menunggu di stasiun kereta api Bogor. Ada buku kecil yang harus saya selesaikan. Menunggu di stasiun KA mulai jam 23.30; karena kereta terakhir memang akan tiba jam 24.00; tengah malam.
Menunggu cukup lama, rupanya ada berita bahwa kereta api mengalami kerusakan, dan saat ini berada di Manggarai. Kemungkinan akan sampai ke Bogor jam 02.30. Wah…!
Pulang sudah tak mungkin. Pilihannya hanya menunggu.
Duduklah saya di depan pintu kereta api. Emperan. Tiba-tiba berlarian 7 anak jalanan di depan saya. Kucel-kucel. Entah apa yang mereka ributkan, akan tetapi, salah satu anak jalanan itu dipukuli ramai-ramai dan menangis; sementara yang lainnya mentertawakan.
Agak lama… mereka berbaikan kembali dan kini berkumpul persis di samping saya.
Saya beranjak. Membeli gorengan. Menghampiri anak jalanan. Membagi gorengan untuk dimakan bersama.
Tak diambil gorengannya, tapi direbut. Ada yang ambil dua, ada yang tak kebagian. Padahal gorengan yang saya beli ada 10 potong. Tak apa… mungkin itulah yang dilakukan mereka di jalanan. Harus saling rebut.
Sambil makan, saya mulai ngobrol dengan mereka. Saya tanya, kenapa mereka menjadi anak jalanan. Jawabannya:
- “Saya jadi anak jalanan, karena kabur dari rumah. Dimarahin terus sama Ibu….”
- “Saya kabur dari rumah. Malah ngga boleh makan..”
- “Saya dibuang di stasiun ini sejak bayi. Dan sampai sekarang, ngga tau kenapa ibu saya membuang saya disini”
-”Saya sih pulang ke rumah. Nanti ibu saya kesini. Ibu saya juga ngamen di kereta..”
Miris mendengar mereka berbagi cerita. Apalagi tak ada diantara mereka yang sekolah (padahal usia sekolah). Sedih, karena saya hampir tidak bisa berbuat apa-apa. Ingin mengajak mereka ke Pondok Yatim Menulis di Ciapus, tapi rasanya terlalu jauh; apalagi mereka memiliki pekerjaan yang jadi sumber pendapatan di kereta: mengemis, mengamen, memungut koran bekas, menyapu lantai kereta, mencuci kereta, sampai menjaga sandal dan menjual koran pas waktu shalat jum’at.
Malam beranjak pagi. Anak jalanan itu kemudian mengeluarkan kartu dan rokok. Mereka bermain kartu sambil merokok. Tak jauh dari tempat mereka; ada beberapa orang tua yang sedang main kartu dan merokok. Mungkin mereka menjadi contoh bagi anak jalanan itu.
Asyik bermain. Saya memperhatikan. Kemudian saya bertanya:
“Tidurnya dimana?” karena saya melihat, tidak ada tempat untuk tidur, kecuali secuil tembok/teras stasiun. Apalagi saat itu hujan..
“Yah… dimana ngantuk, disitu saya tidur” katanya, enteng.
Saya membeli makanan lagi, tambah minuman. Berbagi makanan dengan mereka. Sambil ingat dengan anak yatim di Ciapus.
Ah…. ketika saya membuka handphone dan memeriksa twitter; ramai dibicarakan DPR meminta dana aspirasi sebesar Rp 15 M untuk setiap Daerah Pemilihan. Negara ini digerogoti oleh jalanan. Gampang betul mereka meminta uang negara, yang tentu saja dibiayai oleh rakyat dan menjadi hak rakyat.
Negara (dengan mental) jalanan itu meminta sesuatu untuk dirinya, dan belum tentu bisa melindungi anak-anak jalanan yang di depan mata saya sedang menjalani hidup…. entah, apakah mereka tahu akan berakhir dimana, kelak ketika dewasa, jika mengisi hidup dengan cara seperti yang mereka lakukan.
Anak jalanan adalah kewajiban negara untuk mensejahterakannya. Sayang.. para petinggi negeri ini mungkin tak peka hingga ke akar rumput dan tak tahu bahwa di jam tidur nyenyak mereka, masih banyak anak-anak jalanan yang memegang perutnya karena kelaparan, dan tak bisa tidur karena tak menemukan alas untuk berbaring.



on Juni 6th, 2010 at 22:35
Makin ga ngerti ma kelakuan para pejabat negeri ini saya kang T.T
on Juni 9th, 2010 at 20:14
wuihhh…bagus artikelnya den..
saya suka sekali tulisanya…di tempat saya jga banyakl anak jalanan yang seperti itu….miris sekali ya dengar kisah hidup mereka,,di tengah kejamnya kota…
on Juni 21st, 2010 at 15:05
Topik ataupun Judulnya sama, gak ada perubahan untuk negeri ini…segitu2 aja…
on Juli 4th, 2010 at 15:01
itu sungguh sesuatu yang sangat mengkhawatirkan..,,,,
on Juli 4th, 2010 at 15:03
ini suatu artikel yang bagus..,,,,
on September 29th, 2010 at 16:57
ijin copas ya a, saya taro di blog. dilink ke sini kok