Dua Mimpi Beda Aksi: Sumpah Pemuda dan Sumpah Palapa

Posted on Oktober 30th, 2010 in Kisah Juga by lebahcerdas

Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya. Indonesia tidak bisa lepas dari sejarah kejayaan kerajaan-kerajaanmulai dari Sriwijaya, Majapahit, Kutai, Pajajaran, dan kerajaan lainnya. Buktinya nama-nama kerajaan tersebut menjadi nama yang sampai saat ini menjadi nama-nama yang melegenda dan biasanya mewakili kebesaran sejarahnya itu sendiri. Palembang dikenal dengan bumi Sriwijaya, Sunda dikenal dengan nama bumi Pajajaran atau bumi Parahyangan.

Apa yang istimewa dengan kerajaan tersebut? Selain sebagai pusat kekuasaan dan pusat ilmu, kerajaan-kerajaan tersebut juga mewariskan spirit.

Mbah Marijan dipeluk Allah

Posted on Oktober 27th, 2010 in Kisah Juga by lebahcerdas

Kejadiannya hampir bersamaan. Merapi menyembur; mentawai

menggelora. Banyak nyawa melayang.

Bangsa ini berduka. Alam memiliki mekanismenya; manusia
seharusnya mengikuti mekanisme alam. Ketika alam dikhianati, maka bencana yang seharusnya
tak terjadi pun akan menerpa.

Air Mata Pak Beye

Posted on Oktober 22nd, 2010 in Kisah Juga by lebahcerdas
Menangis lagi tak cukup jika hanya berwajah sedih

Bogor Kota Hujan, bertambah dengan hujan air mata.

Ya.. presiden yang didukung 60% rakyat itu menangis..

Walaupun oleh pakar bahasa tubuh, dikatakan bukan menangis, tapi terharu.

Apa pun ada air mata, ada wajah sedih.

Beberapa orang menganggapnya sebagai pencitraan.

Padahal, menjadikan rakyat sejahtera adalah pencitraan yang sangat bagus. Tak perlu bayar orang PR yang bagus. Sejahterakan saja rakyat; maka pengakuan manusia di dunia dan Penguasa di dunia dan akherat akan menyukainya.

Jangan menangis Pak Beye. Rakyat sudah banyak yang menangis.

Bangkitlah Rakyat butuh pemimpin yang tegar untuk membuat mereka sejahtera.

Gerakan “Satu Hari Tanpa Nasi”, Kebijakan Pemerintah atau Alibi?

Posted on Oktober 13th, 2010 in Kisah Juga by lebahcerdas

Menonton diskusi di sebuah televisi swasta, tentang rencana pemerintah (dan katanya sudah dijalankan di beberapa daerah), tentang Gerakan Satu Hari Tanpa Nasi sebagai upaya untuk menguatkan ketahanan pangan nasional.

Agak kaget mendengarnya, campur geli juga, paling tidak sama gelinya dengan pertanyaan dari penelpon di acara tersebut.

Bangsa Indonesia memang pengkonsumsi nasi yang cukup besar, rata-rata mengkonsumi 130 kg beras per tahun; lebih dari dua kali lipat bangsa Amerika yang rata-rata per orang mengkonsumsi 60 kg per tahun.

Harga beras sebenarnya sedang merangkak naik; tapi tak diekspos seperti harga cabe. Produksi beras juga sedang menurun; tapi tak terlalu diekspos juga.

Nara sumber dari pemerintah, yang sudah pasti orang pinter, menjelaskan tentang salah kaprah karena bangsa bangsa Indonesia lebih memberi perhatian kepada beras, buktinya ketika ada swasembada, beras yang jadi perhatian utama; ketika ada raskin, beras juga yang jadi perhatian utama.

Argumen yang aneh.

Kontribusi Obama untuk Indonesia

Posted on Oktober 12th, 2010 in Kisah Juga by lebahcerdas

Prof. Dick Baker; seorang ahli politik hubungan Asia - Amerika, berbincang santai di kebun belakang belakang East West Center, Hawaii. Sebuah pusat kajian tentang budaya Timur dan Barat; yang memiliki sejarah terkait dengan kelahiran Obama.

Di salah satu asrama mahasiswa inilah Stanley Ann Dunham bertemu dan terpikat dengan Lolo Sutoro, pria asal Bandung yang memperoleh beasiswa East West Center.

Indonesia memang dikenal oleh Amerika; yang paling dikenal oleh mereka tentu saja Bung Karno yang saat itu mengatakan Go to Hell. Itu yang dikenal orang tentang Indonesia. Tentu, kini hubungan Indonesia dengan Amerika bukan lagi soal Surga atau Neraka; tapi ada hubungan edukasi yang saling membekali.

Halaman Berikutnya »