Gerakan “Satu Hari Tanpa Nasi”, Kebijakan Pemerintah atau Alibi?

Posted on Oktober 13th, 2010 in Kisah Juga by lebahcerdas

Menonton diskusi di sebuah televisi swasta, tentang rencana pemerintah (dan katanya sudah dijalankan di beberapa daerah), tentang Gerakan Satu Hari Tanpa Nasi sebagai upaya untuk menguatkan ketahanan pangan nasional.

Agak kaget mendengarnya, campur geli juga, paling tidak sama gelinya dengan pertanyaan dari penelpon di acara tersebut.

Bangsa Indonesia memang pengkonsumsi nasi yang cukup besar, rata-rata mengkonsumi 130 kg beras per tahun; lebih dari dua kali lipat bangsa Amerika yang rata-rata per orang mengkonsumsi 60 kg per tahun.

Harga beras sebenarnya sedang merangkak naik; tapi tak diekspos seperti harga cabe. Produksi beras juga sedang menurun; tapi tak terlalu diekspos juga.

Nara sumber dari pemerintah, yang sudah pasti orang pinter, menjelaskan tentang salah kaprah karena bangsa bangsa Indonesia lebih memberi perhatian kepada beras, buktinya ketika ada swasembada, beras yang jadi perhatian utama; ketika ada raskin, beras juga yang jadi perhatian utama.

Argumen yang aneh.

Rakyat ini bukan sampel atau populasi, yang ditambah dan dikurangi dengan angka saja. Rakyat juga manusia yang memiliki budaya dan karakternya. Memang di Jepang, masyarakatnya bisa diarahkan untuk lebih banyak mengkonsumsi sayuran; akan tetapi, apakah cukup usaha pemerintah dalam melakukan sosialisasi dari kebijakan ini?

Rasa-rasanya ide pemerintah untuk Satu Hari Tanpa Nasi ini mengarah kemana ya? Apakah betul kebijakan? ataukah sekedar alibi dari tingkat produksi yang melemah? dan memerintah rakyat untuk mengatasinya?

Semoga saja, ada niat baik dibalik kebijakan Satu Hari Tanpa Nasi. Dan semoga pemerintah sadar untuk melakukan gerakan, sekali saja.. Satu Hari Tanpa Sensasi..

(Sudah nulis, langsung ke dapur, makan nasi)


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?



15 Responses to 'Gerakan “Satu Hari Tanpa Nasi”, Kebijakan Pemerintah atau Alibi?'

Subscribe to comments with RSS or TrackBack to 'Gerakan “Satu Hari Tanpa Nasi”, Kebijakan Pemerintah atau Alibi?'.

  1.    INEZ SiMaNaDaLaHI said,

    on Oktober 13th, 2010 at 09:54

    “sudah nulis, langsung ke dapur, makan nasi”
    kwkwkwkwkwkwk..
    lucu, dan menggelikan
    mana mungkin rakyat indonesia sanggup melakukan hal itu, apalagi masyarakat yang tinggal dipadalaman dan profesi sebagai petani, tak akan sangguplah..

    salam untuk Yg punya blog
    kunjungi blog aq ya
     onesri.blogdetik.com
    :)

  2.    dewi said,

    on Oktober 13th, 2010 at 11:23

    aduhh… jangan sampe deh. mana tahan sehari ga makan nasii… ^-^

  3.    uni said,

    on Oktober 13th, 2010 at 11:39

    hehe, pas bulan puasa bukankah kita mengurangi konsumsi makan, bukan hanya nasi, tapi sayur dan buah juga :D

  4.    sutrisno said,

    on Oktober 13th, 2010 at 12:00

    setuju sehari tanpa nasi, sebagai makanan penggantinya ketupat atau lontong saja. Maksud pemerintah adalah biar subsidi pupuk untuk petani berkurang kalau konsumsi beras juga berkurang. Petaninya tambah kejepit aja…

  5.    rice2gold said,

    on Oktober 13th, 2010 at 12:22

    langkah yang dilakukan oleh kita adalah merubah kebiasaan dalam memperlakukan isi didalam piring kita, stop menghambur-hamburkan makanan.
    Bila itu berjalan, insyaallah gerakan satu hari tanpa nasi bisa dilaksanakan (bila kita mau mengambil makna sesungguhnya seruan tersebut), apakah kita tidak merasa bahwa telah melakukan pemborosan disegala penjuru?, salah satunya ya soal nasi ini.

  6.    jayapurnama said,

    on Oktober 13th, 2010 at 13:08

    “Gerakan Satu Hari Tanpa Nasi sebagai upaya untuk menguatkan ketahanan pangan nasional”

    topiknya buat aku ngakak juga… hahahahha ada2 aja kerjaan pemerintah kita….


  7. on Oktober 13th, 2010 at 15:07

    satu hari tanpa nasi? bisa mati lemas hamba he he he…kutukan nasi sudah sangat akut pada diri hamba yang lemah ini, wahai para pemimpin negeri, bisakah otak kalian di pakai berpikir agak keras lagi sehingga kebijakan yang di hasilkan adalah kebijakan yang cerdas and solusif???

  8.    kakve-santi said,

    on Oktober 13th, 2010 at 21:29

    ane bin ajaib memang pemerintah kita

  9.    April said,

    on Oktober 13th, 2010 at 23:28

    Pemerintah kita bisanya cuma niru luar negeri terus, mulai dari konversi minyak tanah, denominasi mata uang, dan satu ini; beras.
    Kalo perlu, ditiru juga GAJI anak bangsa seperti luar negeri.

  10.    pinqueen said,

    on Oktober 14th, 2010 at 02:57

    pemerintah (yang badannya tambun) menyuruh rakyatnya (yang kurus-kurus) untuk stop makan, jadi ironi gak sih?

    di Indonesia kan kalau ‘belum makan nasi’ sama artinya dengan ‘belum makan apa-apa?’

  11.    yoszuaccalytt said,

    on Oktober 14th, 2010 at 09:04

    alsan pemerintah yg tidak berhasil menyejahterahkan rakyatnya….

  12.    ujang said,

    on Oktober 14th, 2010 at 13:01

    lebih setuju, SEHARI TANPA KORUPSI,

  13.    doni wijaya said,

    on Oktober 14th, 2010 at 14:54

    Urusan makan aja di atur sama negara……

  14.    Asop said,

    on Oktober 31st, 2010 at 15:38

    Iya, memang rasanya agak gimanaaaa gitu mendengar ide ini. Saya sih ikut2 aja, kalo memang ini serius mau dilaksanakan. Tapi saya tetap merasa seperti ada suatu pembelaan dari pemerintah terhadap masalah pangan di Indonesia ini. Rasanya departemen terkait seperti lepas tangan terhadap masalah pangan yang ada. Di lain sisi, saya merasa ini juga jalan keluar yang dipikirkan departemen terkait, karena tujuan program ini adalah untuk mengingatkan bahwa makanan utama kita ini tidak hanya beras, masih ada ubi, kentang, sagu, ketela, dan singkong. :)
    Setidaknya departemn terkait mau mengingatkan rakyatnya begitu. Jangan terlalu bergantung pada beras. ;)

  15.    inez simbolon said,

    on Maret 24th, 2011 at 14:29

    klw menurut saya sich bisa-bisa ajh”
    seperti luar negeri ajh’
    contohnya amerika,,lebih banyakan makan roti sajha”
    dimana pengolahannya dari sagu,singkong dsb jadi tidak harus makan nasi”
    dan memperingan tanggung jawab pemerintah terhadap masyarakatnya”
    dan itu juga suatu ide ala modern”buat mensejahterkan rakyat indonesia ini.
    thanks be 4.

Post a comment