Politisi dan Penyakit Emosi

Posted on Februari 16th, 2012 in Politik Dikit by lebahcerdas  Tagged

Melihat salah seorang politisi di ruang sidang, diindikasi berbohong dalam kasus korupsinya, kemudian muncul koleganya asal partai yang sama, berucap kata penuh dengan ayat-ayat Tuhan, tapi kita tahu beberapa diantaranya hanyalah busa.

Saya teringat dengan skripsi yang membahas tentang Alexitimia, salah satu penyakit emosi yang dibahas Daniel Goleman dalam buku Emotional Intelligence.

Alexitimia adalah penyakit ekspresi, penyakit yang tak bisa memberikan keputusan, hanya berputar di argumen. Tak jelas benar bohongnya, ekspresinya sama. Penyakit yang secara masal diderita oleh politikus yang akhir-akhir ini mendominasi layar kaca di Indonesia.

Sungguh, penyakit alexitimia ini menjadi senjata bagi para politikus, karena dengannya, politikus bisa santai saja berbohong, seolah tak ada konsekuensi dari kebohongannya; santai saja membuat kesalahan, karena (seolah) masih ada hari esok untuk meminta maaf, permintaan maaf yang direkayasa dan didahului oleh berbuat kesalahan yang telah terencana.

Jika Indonesia didominasi politisi (muda) penderita alexitimia, hanya jago berargumen saja, dan menguasai ilmu beladiri, alias sangat mumpuni membela diri serta menguasai salah satu cabang olahraga atletik, yaitu berlariutamanya berlari dari kenyataan; maka kehancuran Indonesia tinggal menunggu waktu saja; penderitaan rakyat tinggal menghitung jaman saja; karena para pemimpin di atasnya, hanya duduk untuk mewakili dan membela dirinya sendiri.

Jangan berhenti untuk mengawasi para pemimpin dan mengkritik mereka, para pemimpin yang tak amanah; karena mereka pun tak pernah berhenti menyusahkan kita, rakyat Indonesia.

Jangan berhenti untuk mengoreksi kesalahan yang dilakukan oleh para politikus yang melenceng, karena koreksi kita hari ini adalah bagian dari masa depan anak cucu yang meneruskan titipan negeri ini.

Bangsa ini lahir dari integritas pemimpin pendiri bangsa; sehingga harus dibersihkan dari pemimpin yang manipulatif dan tak memiliki integritas.

Mungkin perlu kiranya, diadakan pengobatan gratis bagi para politikus penderita alexitimia; karena jika pengobatannya dibayari pemerintah, takutnya sebagian dananya dikorupsi.

Ubah Diri untuk Mengubah Negeri

Posted on Februari 13th, 2012 in Politik Dikit by lebahcerdas

Catatan dari Indonesia Young Changemakers Summit

Setiap generasi memiliki jamannya dan setiap jaman memiliki generasinya

Dahlan Iskan mengungkapkan kalimat kuat itu di sebuah pagi, usai tubuh ini melakukan aktivitas yang membugarkan. Di hadapan pemuda dari seluruh Indonesia, kalimat indah itu adalah penguatan untuk mengambil peran dalam perubahan di Indonesia.

Jangan terlalu dengarkan para orang tua.. sambungnya..

Anak Yatim dan Keadilan Sosial bagi Sebagian Rakyat Indonesia

Posted on Februari 7th, 2012 in Ciapus by lebahcerdas  Tagged

Pak Asep, Ketua RT di lokasi Pondok Yatim Menulis, bertemu dengan saya di depan rumah salah satu anak yatim. Rumahnya hampir rubuh. Atapnya rusak, langit-langitnya bobrok, dinding sampingnya sudah bolong-bolong sekepalan tangan. Tak ada kamar mandi. Selama ini, keluarga Bu Omah beserta 4 anaknya, BAB di selokan.

13285958571253412725Saya bertanya kepada Pak RT, apa yang bisa dilakukan? Apakah sudah dilaporkan kepada Pak Kepala Desa?

Anak Yatim Penjual Asongan

Posted on Februari 2nd, 2012 in YatimPreneur by lebahcerdas  Tagged

Sebut saja namanya Agus. Anak yatim, yang ditinggalkan ayahnya sejak usia 15 tahun. Tekadnya kuat untuk menempuh pendidikan. Karena yakin bahwa pendidikan adalah jalan keluarnya untuk masa depan yang lebih baik. Shalatnya rajin, karena yakin bahwa sholat adalah alat komunikasi onlinenya kepada Sang Maha Pemberi Rezeki.

Sejak SMA sudah berbisnis serabutan. Berbisnis, bukan bekerja. Agus terbiasa atau terpaksa menjual apa saja, selama halal, untuk melanjutkan kuliahnya dan membiayai ibu dan 2 orang adiknya.

SMA-nya tamat, dengan nilai cukup saja. Karena baginya nilai sekolah tidak setara dengan pengalamannya dalam mendapatkan pendidikan itu sendiri.

Kini ia melanjutkan kuliah, sambil menjual asongan, dari bis ke bis. Usai berjualan, ia melanjutkannya kuliah.

Agus anak yang cerdas, yang pendidikannya ditempa di ruang kuliah dan di jalanan.

Semoga saja setiap rezeki yang didapatkannya menjadi kekuatan berlipat untuk melanjutkan pendidikannya di kampus dan menunjukkan tanggung jawabnya sebagai ‘kepala keluarga’ bagi ibu dan kedua adiknya…