Harga Diri dan Indeks Prestasi

Posted on April 10th, 2011 in Kisah Juga by lebahcerdas  Tagged

Senin, 7 Agustus, sehari setelah ulang tahun saya yang ke-21, berkumpul orang-orang di depan Aula Kantor Pusat (AKP), melihat pengumuman kelulusan dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Beberapa orang memberikan selamat kepada saya. Selamat ulang tahun, Panjang umur ya Saya dengan biasa menyambut mereka. Mengucapkan terima kasih. Fokus saya tertuju pada pengumuman di tembok gedung AKP.

Melihat papan pengumuman dan mengurut no. registrasi mahasiswa, saya berhenti pada G.290071itu nomor mahasiswa sayaProgram Studi Ilmu Komputer, jari saya bergerak ke kanan dan menemukan kata-kata:

G. 290071 KELUAR .!

Kepintaran Untuk Membodohi (hampir ketipu)

Posted on Mei 10th, 2009 in Kisah Juga by lebahcerdas  Tagged ,

Mumpung liburan, Sabtu kemarin saya menggunakan waktu untuk jalan-jalan bareng keluarga. Ngga jauh-jauh, cukup ke Bogor Trade Mall saja. Makan, main-main dan tentu saja belanja untuk keperluan rumah, jadi agenda utama. Saya agak buru-buru, karena malamnya akan mengisi pelatihan di Sentul, dari mahasiswa Kedokteran Trisakti.

Usai belanja, dan membawa 2 kantong platik besar yang isinya belanjaan, tiba-tiba ada seorang anak muda, bermuka ramah menghampiri saya..

“Bapak… mau door prize… ini kuponnya..?”

Hutang Dibawa Mati

Posted on April 12th, 2009 in Kisah by lebahcerdas  Tagged

Ada sebuah rumah di dekat rumah saya, yang di depannya dipasang plang DIJUAL. Teman saya, yang pebisnis, melihat rumah itu dan mendatangi pemiliknya. Saat itu lumayan malam, jam 22.00.

Yang menerimanya Pak Yandi, suaminya.

Setahu saya, dulu di depan rumah itu ada mobil Baleno dan 3 angkot. Sekarang semuanya tidak ada. Ibu Yanto, akhirnya cerita, kenapa mereka berniat menjual rumah itu.

Rupanya, beberapa tahun yang lalu, dia menghutangi seseorang sebesar 178 juta rupiah. Tidak langsung, tapi perlahan, mencicil.

Awalnya, dia berkenalan, sebut saja dengan Bu I; karena perkenalan yang demikian baik, akhirnya terjalin persahabatan. Akan tetapi, persahabatan itu dimanfaatkan oleh Ibu I untuk berhutang kepada Ibu Yandi. Pertama-tama, hanya 1 juta rupiah, lama-lama Bu I mengatasnamakan orang-orang lain untuk meminjam uang kepada Bu Yandi.

Entah karena baik atau malah dikerjai, Bu Yandi member pinjaman, hingga totalnya mencapai 178 juta rupiah. Bahkan Bu Yandi sampai berhutang ke bank untuk meminjami uang kepada Bu I. Pak Yandi, suaminya sampai sempat bersitegang di Bu Yandi, untuk tak meminjamkan uang kepada Bu I. Tak digubris, malah Bu Yandi marah-marah.

Bermimpi dan Sekuat Tenaga Mewujudkannya

Posted on Maret 30th, 2009 in Rumus Kehidupan by lebahcerdas  Tagged

Bermimpi dan Sekuat Tenaga Mewujudkannya

Ada 5 alasan kenapa seseorang harus bermimpi dalam hidupnya. Mimpi bukan bunga tidur, akan tetapi mimpi untuk meraih sebuah sukses sejati di masa depan; yang bisa menjadi catatan kehidupan yang bisa dikenang.

Apa saja alasannya?
1. Mimpi itu gratis. Ya. Gratis! Anda bisa memilih mimpi apa pun yang Anda inginkan. Tak ada batasan. Otak Anda sendiri yang akan membajak mimpi Anda, karena ketakutan mimpi itu tak tercapai. Bermimpilah semahal, setinggi mungkin. Karena itu akan menjadi bahan bakar bagi perjalanan hidup Anda. Marthin Luther King mungkin tak membayangkan mimpinya akan dihargainya martabat kulit hitam di Amerika Serikat hingga terpilihnya Barack Obama sebagai presiden

2. Mimpi memberikan arah; dan arah sama pentingnya dengan kecepatan. Bayangkan jika Anda hanya memiliki kecepatan tapi tak memiliki arah; maka secepat apa pun Anda bergerak, sekuat apa pun Anda berjuang, jika berada di arah yang salah, maka usaha Anda akan sia-sia.

Hati yang Tak Bersudut

Posted on Januari 11th, 2009 in Kisah by lebahcerdas  Tagged

Ini kisah nyata, dari seorang teman.

Anakku cuma 4 orang. Pergi kamu pergi dari sini..!

Doni diusir dari rumah. Dia adalah anak ke-5 dari 5 bersaudara. Ayahnya sudah tidak menganggap dia sebagai anak lagi. Pulang atau tidak sudah tidak diharapkan lagi oleh keluarganya. Kenakalannya yang menurut orang tuanya sudah diambang batas, membuat dia diusir dari rumah, dianggap tidak ada. Hidup mati sudah tak penting.

Halaman Berikutnya »