Nikah Gratis dan Spring Bed di Ruang Tamu

Posted on Agustus 18th, 2009 in Kisah Juga by lebahcerdas  Tagged , ,

Sebut saja namanya Endin. Kemarin siang bertemu tepat ketika saya melihat-lihat sebidang tanah, seluas 150 meter, di dekat rumahnya. Jika Allah mengijinkan, royalti dari buku lebah cerdas, akan saya gunakan untuk membeli tanah mungil itu dan mendirikan Pustaka Rumah Tulis di atasnya; semoga nanti bisa membuat perpustakaan mini di kampung, yang masih banyak terbelakang pendidikannya.

Kenapa saya berkepentingan bertemu dengan Endin? Karena Endin adalah orang yang akan menjadi tukang bangunan dari rumah itu nantinya. Insyaallah.

Endin cerita, kalau dirinya kini sedang susah. Semuanya berawal dari seorang temannya yang meminjam motor di akhir tahun 2008. Untuk jalan-jalan di tahun baru katanya, menuju Pelabuhan Ratu.

Karena sudah kenal, Endin meminjamkan motornya, dan meyakini bahwa 3 hari kemudian, motor itu akan dikembalikan.

Preman Bojong Jengkol yang Baik Hati

Posted on Agustus 8th, 2009 in Kisah Juga by lebahcerdas  Tagged

Ini cerita dari teman saya, marboth sebuah mesjid kampus. Penampilannya sederhana, berjanggut lumayan banyak, berkaca mata, dan bermata sejuk.

Suatu hari, dia naik kereta api, rute Jakarta - Bogor. Dia duduk, dan tak jauh darinya duduk juga seorang pemuda, sepertinya preman, dari komunikasinya dengan orang-orang di sekitar dan juga, bagaimana respon orang di sekitarnya.

Teman saya ini, yang memang baik.. sekedar basa-basi, menanyakan tentang preman itu, ke orang yang duduk tak jauh darinya.. dari Bojong Jengkol katanya… sebut saja dia Kang BoJe.

Biasanya, setiap ada yang melihat si preman alia Kang Boje ini, segera Kang Boje balas menatap, dan menghardik:

“He.. apa lu liat-liat.. gua clurit lu….”

Ganti Handphone: Antara Keinginan dan Kebutuhan

Posted on Juli 24th, 2009 in Kisah Juga by lebahcerdas  Tagged ,

Ini cerita dari teman saya; seorang penulis, juga pengusaha.

“Ganti tuh handphone lu…jadul!” kata temannya

Teman saya ini, sebut saja Mas R; handphonenya memang jadul, keluaran 5 tahun yang lalu, dan belum pernah diganti. Padahal, dia mampu beli handphone terbaru, berapa pun harganya. Yang jelas, dia sepertinya menganggap handphone hanya untuk berkomunikasi dalam bentuk sms atau telpon.

Tapi, bertubi-tubi teman-teman di sekelilingnya ‘menggoda’ untuk mengganti hanphone, yang berkamera, bisa akses internet, bisa facebook-an, pokoknya yang update.

Peluang Sering Menyamar

Posted on Juli 23rd, 2009 in Rumus Kehidupan by lebahcerdas  Tagged

Peluang seringkali tidak datang dalam wujud aslinya. Peluang sering melakukan penyamaran. Hanya orang yang jeli saja yang bisa menyingkap penyamarannya dan menemukan wujud asli dari peluang untuk kemudian memanfaatkannya.

Peluang seringkali datang melalui beragam penyamaran diantaranya:

Kegagalan Anda

Percayalah bahwa kegagalan adalah sisi lain dari kesuksesan. Untuk membaliknya, Anda hanya butuh menemukan peluang di balik kegagalan. Berpikirlah positif terhadap hasil negatif. Optimislah terhadap hasil yang Anda dapatkan, sekalipun itu kegagalan.

Contoh paling populer terhadap peluang dari kegagalan adalah Viagra. Pil Biru yang pada awalnya adalah obat jantung diujicobakan kepada beberapa pria. Tapi ternyata hasil uji cobanya menghasilkan efek depan bukan efek samping. Viagra gagal sebagai obat jantung tapi sukses sebagai obat kuat untuk pria. Selalu ada peluang dibalik kegagalan.

Informasi

Klakson vs Klakson

Posted on Juli 21st, 2009 in Kisah Juga by lebahcerdas  Tagged

Pulang dari rumah ibu-nya isteri alias mertua, saya melanjutkan perjalanan ke rumah di Ciapus. Saya menggunakan motor. Sepanjang jalan, cukup lengang, karena hari ini liburan, Isra Mi’raj.

Ketika tiba di jalur jalan raya Ciapus, ada sedikit tersendat, karena banyak angkutan umum yang berhenti sembarangan. Di belakang saya, terdengar suara klakson..

“Diin.. Diin.. Diin…”

Di depan saya ada angkot yang sedang negosiasi antara penumpang dengan supirnya, jadi memang tak bisa maju.

“Diin.. Diiin.. Diiiin”

Kembali suara klakson dari belakang. Mulai menjengkelkan. Saya mengintip dari kaca spion, saya lihat, ada kendaraan pribadi di belakang saya; mobil lumayan mahal.

Angkutan umum di depan saya jalan. Saya pun berjalan perlahan, di pinggir; memberi kesempatan untuk disalip; siapa tahu mobil di belakang saya memang sedang buru-bu

Halaman Berikutnya »